Minggu, 08 April 2012

“Remaja Muslim Kudu Gaul N Cerdas”


1. Sama MASALAH Kok Takuttt???
    
     Hello,,, ‘bangun euy!, ayo bangkit kawan!! Jangan sedih n murung mulu… jelek tau…@
     Kamu punya masalah?? Cuma itu alasan yang bikin kamu murung begini? Ah,,, gak banget deh. Kalo kamu buka mata lebar-lebar, tentunya kamu bakalan tau bahwa gak Cuma kamu yang didera masalah. Semua orang juga punya masalah, dan asal kamu tau ni, selagi kita masih hidup dan terus bernafas,, selama itu pula masalah akan selalu hadir menemani. So, gak Cuma kamu yang bermasalah.
     Sahabat muslim, masih ingat gak salah satu firman Allah SWT yang menjanjikan sesuatu kepada kita,, hmm.. gak tau??
Pengen tau gak?? Begini nih bunyinya:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
(Q.S. Alam Nasyrah : 5-6)
  Nah lho?? Ternyata sesudah datang nya masalah, bakal ada waktu2 dimana masalah itu akan jadi mudah serta dapat kita atasi. Masih gak percaya?? Itu Firman Allah lho,, bukan kata aku. So, kamu kudu yakin kalo setiap masalah yang menimpa kita itu InsyaAllah pasti bakalan berakhir.
     Gimana caranya tu masalah bisa kita atasi??
Hmm,,pertanyaan yang cerdas.. tapi tenang dulu sobat!! Ntar aku bakal ceritain kok.
Aku balik naya nih,, Sebenarnya kita udah ikhlas belom nerima segala hal yang ada pada diri kita??
Sebuah pertanyaan yang simple, tapi aku yakin jawabannya pasti sulit. Kamu aja mikir nya sampe lama gitu. Hehe
     Pada dasarnya kita sering kali tidak ikhlas n lapang dada dalam menerima segala yang melekat pada diri kita. Hingga akhirnya hal inilah yang yang membuat hati terasa tak enak, bahkan sering kali merasa tidak ada ketenangan dalam menjalani hidup. Bener kan?? Jujur aja dah!!
     Hmmm,, Tidak jarang juga kita merasa diperlakukan tidak adil, hal ini pulalah yang membuat keikhlasan menjadi barang langka. Alhasil, hanya orang yang penuh dengan keimanan dan ketakwaan sajalah yang mempunyai rasa keikhlasan dalam diri. Menumbuhkan rasa ikhlas memang bukanlah hal yang mudah,, namun bukan pula perkara sulit. Lho kok?? Pie toh??
Bingung?? Gini lho sobat,,sebenarnya kalo kita bisa ikhlas dalam menerima segala yang telah terjadi pada diri kita, insyAllah semua akan terasa lebih plong,, hati terasa lebih tenang.  Kamu tau gak sobat… bahwa orang yang punya sifat ikhlas akan termasuk dalam orang-orang yang ditinggikan derajatnya. Coba deh kita liat orang yang bener-bener memiliki sifat ikhlas. Meskipun posisi mereka da;am kehidupan dunia dalam keadaan kekurangan (tidak kayaa atau tidak punya kedudukan), namun hati mereka menerima dengan penuh keikhlasan dan yang pasti mereka tidak banyak mengeluh.
     Tapi sobat,, bukan berarti ikhlas terus diem aja gitu,,, kita kudu tetap berikhtiar untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan yang jelas kita gak boleh iri atau dengki terhadap orang yang punya kelebihan.
Nah,,, mau nanya lagi nih sobat. Kita udah ikhlas belom menerima segala kesulitan atau masalah yang datang kepada kita??
     Coba kita sama2 buka mata dan lihat disekeliling kita. cermatilah para saudara kita yang kondisinya terpinggirkan. Mereka telah mampu menguraikan logika berpikir kita bahwa hidup didunia ini membutuhkan konsep ikhlas untuk bisa menikatinya. Coba lihat lagi para pemulung dipinggir jalan, pedagang asongan ataupun pedagang kaki lima. Tak peduli panas terik membakar kulit, bagi mereka hidup adalah terus bergerak, rasa ikhlas dalam dada merekalah yang mampu membuat mereka tegar dan terus tegak berdiri menantang gelombang kehidupan.
     Sobat muslim,, memang sulit rasanya menerima segala kekurangan yang ada pada diri kita. bahkan terkadang kita iri melihat teman2 kita yang memiliki kelebihan sementara kita merasa sama sekali tidak punya kelebihan.
Sobat muslim,, Sebenarnya kita pun juga memiliki kelebihan, karena setiap manusia memang dianugerahi kelebihan dan bakatnya masing2. Tinggal bagaimana kita menggalinya hingga dapat tumbuh berkembang menjadi suatu prestasi. Kita memang kudu sabar dalam menggali bakat yang kita miliki. Dan sekuat mungkin juga kudu sabar dalam menerima segala kekurangan yang melekat pada diri kita. keimanan, ketakwaan, dan kesabaran yang kokoh sangat kita butuhkan dalam menghadapi setiap masalah yang menimpa kita. dengan begitu kita tidak lagi menganggap bahwa Allah tidak adil. Asal kamu tau ya sobat,, Allah itu maha adil.


Sabtu, 24 Maret 2012

cerpen ke 4

Takdir Berkata Lain….

     ***Lelah rasanya siang itu,, kubanting pintu kos. Sejurus kemudian aku langsung menyalakan kipas angin yang ada dikamarku lalu Ku rebahkan tubuhku diatas ranjang. ‘Wusss… angin sejuk langsung menampar tubuhku siang itu. kulirik jam dinding, masih jam 4, “Masih ada satu jam lagi..” Ucapku pelan.
Kunikmati istirahatku dikasur. “Masih sempat memejamkan mata sebelum barangkat kuliah,” rencanaku dalam hati. Bagiku waktu sangat penting dalam hidup. Sebisa mungkin aku manfaatkan karena memang Aktifitasku cukup banyak, pagi aku harus bekerja, dan sorenya aku harus kuliah. Aku bekerja Di sebuah PT Informatika Reka Mandiri tepatnya di kota bandung sesuai dengan jurusan yang kuambil yakni teknik informatika. Penghasilanku Alhamdulillah lebih dari cukup. Sebab itu aku yang mengambil alih untuk membiayai adikku sekolah.
Tit..tit…titt….
Hampir pulas, namun terganggu oleh dering suara ponselku yang terdengar semakin keras. “ada sms masuk” ucap batinku. Akupun langsung membacanya.
From Aida (0856663xxx)
“Ass.. mas Fadil. Sebelumnya aku mohon maaf beribu maaf mas… dalam keputusasaan aku ingin mengabarkan bahwa besok aku akan menikah. Mungkin aku bukan  jodohmu mas. Kuharap, suatu hari nanti kau akan menemukan yang lebih baik dariku.”

“Grrrhh…” Spontan aku kaget. Aku bingung. “Apa yang terjadi dengan Aida?” Tanya batinku. Aida adalah calon isteriku. Pertemuanku di acara bakti sosial beberapa waktu yang lalu membuatku yakin untuk mengkhitbahnya. Awalnya aku hanya ingin PDKT dulu, barangkali untuk tahap awal pacaran dulu. Namun dia menolak, dengan mengatakan sesuatu yang membuatku kagum terhadap dirinya. “jika mas Fadil sayang padaku.. lebih baik datang saja pada orang tuaku dan aku lebih memilih menjadi isterimu. Jika mas belum siap Akan lebih baik jika mas melupakanku saja. Aku tak mau pacaran mas.” Ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Aku salut dengannya dan sungguh Ada sesuatu yang berbeda  dari wanita lain yang terpancar dari setiap gerak geriknya.

Malu karena Allah adalah perona pipinya…..Penghias rambutnya adalah jilbab yang terulur sampai dadanya…..Zikir yang senantiasa membasahi bibir adalah lipstiknya……Kacamatanya adalah penglihatan yang terhindar dari maksiat……Air wudhu adalah bedaknya untuk cahaya di akherat….Kaki indahnya selalu menghadiri majelis ilmu……Tanganya selalu berbuat baik pada sesama….Pendengaran yang ma’ruf adalah anting muslimah…..Gelangnya adalah tawadhu…..Kalungnya adalah kesucian

Sebuah puisi yang jika kubaca, maka wajahnya yang teduh seolah terlintas dan bermain dibenakku. Sosok wanita yang sangat luar biasa dimataku. Dia wanita berjilbab yang kudambakan selama ini. Namun tiba-tiba saja hatiku terasa hancur berkeping-keping. Tak tahu apa penyebabnya, padahal baru bulan kemaren aku mengunjungi Aida bersama keluargaku, semua berjalan lancar penuh dengan canda tawa.
      Aku mencoba menghubungi ponselnya, ternyata tidak aktif. Aku coba kembali tetap masih nada yang sama. Akupun  bangkit dari kasur. Terpaksa kubatalkan jadwal kuliahku hari ini. Hatiku masih risau dan bimbang. Sekejap mata aku langsung tancap gas menuju rumah Aida dengan mengendarai sepeda motorku. Akupun melaju membelah jalan dengan hati bertanya-tanya.
“Ya Allah,,, apa yang terjadi??” Rintihku dengan penuh kebingungan.
Baru bulan yang lalu aku merencanakan bersama keluarga Aida untuk melamarnya setelah kuliahku selesai. Tinggal menunggu skripsiku selesai dan aku akan wisuda.


           

                                                ************************
Sesampainya dirumah Aida, aku langsung memarkirkan sepeda motorku. Jarak rumah Aida memang cukup jauh dari tempat kosku.
“tok….tok….tokk…. Assalamu’alaikum…..” sapaku sembari mengetuk pintu. Ku tunggu sejenak , belum ada jawaban. Kuulangi sekali lagi.
“Wa’alaikum salam…” pintupun terbuka. Ternyata ibunya Aida.
“Maaf Umi menggangu. Aidanya ada umi??” sapaku ramah.
“Eh,,, nak Fadil. Silahkan masuk dulu nak!” Jawab ibunya Aida sambil mempersilahkanku masuk.
“Terimakasih umi…”
Kutatap wajah ibu, ada kegelisahan dan kesedihan yang terpancar dari raut wajahnya. Mukanya terlihat pucat ketka melihatku datang. Aku semakin bingung.
“Aidanya ada Umi??” tanyaku penasaran. ibu terdiam seraya menunduk.
“Ai,,,aidanya ndak ada nak. Dia berangkat ke jogja bersama abinya. Emang nak Fadil tidak diberi tahu??” jawab ibu dengan getar bibir terbata-bata.
“Justru itu umi,,, saya ingin menanyakan prihal ini. sebenarnya apa yang terjadi dengan Aida??”
“Ma,,maafkan kami nak Fadil. Maafkan kami. Takdir Allahlah yang berkuasa.” Jawab ibu dan kini air matanya pun turut andil.
“Baiklah,, ibu akan jelaskan semua padamu. Aida akan menikah dengan pria lain. Sebenarnya semua ini terjadi bermula saat Aida ikut seminar di Jogja. Lima hari setelah nak Fadil datang bulan kemaren kesini, Aida minta izin untuk mengikuti seminar itu. kampusnya Aida mengirim utusan tiga orang untuk mengikuti seminar itu dan Aida salah satunya. Ia berangkat bersama ayu dan ardi teman kampusnya. Kampusnya Aida memberikan Fasilitas dua kamar hotel untuk menginap.” Tiba-tiba suara ibunya Aida terhenti dan tangisnya semakin menjadi. Namun ia mencoba tetap tegar dan melanjutkan kembali.
“Sepulang nya Aida dari Jogja, wajahnya tampak pucat. Kami mencoba menanyakan ada apa dengannya. Ia tak mau cerita tapi kami coba merayu den memaksanya. Dengan hati menjerit dan berlinang air mata, ia menjelaskan bahwa ia dijebak dan DIPERKOSA oleh Ardy teman kampusnyaa itu. dan pada saat kejadian itu ayu sedang tidak berada dikamar.” Tiba-tiba tangis ibunya Aida meledak, air matanya mengalir deras.
“Ternyata Ardi telah lama menyukai Aida namun selalu ditolak  jika Ardi meminta Aida untu menjadi pacarnya. Ardi mengetahui bahwa Aida akan segera menikah dengan nak Fadil. Maka dari itu,  ia mengambil kesempatan dengan adanya seminar itu melampiaskan nafsu bejatnya.”
Mendengar penjelasan ibu, hatiku terasa begitu pedih. Bibirku bertasbih,, batinku merintih dengan apa yang baru saja kudengar
“kami dengan pihak keluarga telah sepakat untuk menikahkan Aida dengan Ardi. Maafkan kami nak Fadil…” ibunya Aida mengakhiri penjelasannya.
Suasana seolah mencekam. Hatiku seakan ingin meledak. Wajahku menunduk. Ada yang menetes dari sudut mataku. Sunnguh aku tak kuat menahan perasaanku. Akupun langsung pamit pulang.



                                                *************************
Dalam perjalanan pulang bibirku terus bertasbih.  Hatiku remuk, mataku terus saja mengalirkan sesuatu.  Pernikahan yang kudambakan gagal. Wisuda yang kutunggu-tunggu  sebagai awal puncak kesuksesan masa depanku terasa tak bermanfaat lagi. Aida adalah gadis idamanku kini telah terbang dibawa seekor elang yang rakus tak bermoral.
     Sesampainya dikamar kos, aku menangis sejadi-jadinya. Aku meratap dan memohon kepada tuhanku agar senantiasa diberi kekuatan dan ketabahan. Sungguh larut dalam kesedihanku. Tiba-tiba suara adzan magrib berkumandang. Panggilan tuhan masuk dalam batinku.
     Dengan berlinang air mata aku mencoba tegar menghadapi kuasa Allah itu. sebuah garis takdir yang harus kuterima dengan lapang dada. Usai sholat. Akupun bermunajat kepada Rabbku. Aku bertafakkur. Tubuh ku seolah roboh begitu saja dan sujud dihadapan sang maha pencipta. Ku utarakan kegundahan hatiku.aku berharap diberikan cinta disuatu hari nanti diujung hari. Suatu cinta diatas cinta yang hilang.

   ***************************



Tujuh bulan telah berlalu.. dengan hati yang tegar kuselesaikan kuliahku meski tak sesemangat dulu ketika aku hendak menikah.  Kini aku telah meraih gelar S1 teknik infaormatika dan mendapat nilai yang memuaskan. Namun dari hari kehari bayangan Aida masih saja hadir dalam benakku. Tanpa kabar, tanpa pertemuan, dan tanpa penjelasan langsung dari bibir Aida setelah hari yang pahit itu. aku pun mencba menata kembali masa depanku.
***** dihari Wisuda ku itu, sengaja ku panggil ibu dari kampung utuk hadir mendampingiku. Senyum ibuku telah cukup membuatku terhibur setelah luka yang begitu dalam mengiris-iris hatiku. Namun keadaan berubah, dan kuyakin dengan bantuan Allahlah aku sanggup menghadapi semuanya.

Tiba-tiba suasana Aula gedung itu seolah bertasbih. Ada sosok wanita anggun, cantik nan jelita dengan jilbab ungu datang mengahmpiriku.
“Subhanallah,,, Aida. Benarkah dia Aida?? Alangkah beruntungnya laki2-laki yang telah menikahinya saat ini.” batinku.
Hatiku berdesir..saat ia mendekati ibu ku. Jantungku berdegup kencang. Sama seperti pertama kali kau berjumpa Aida di acara Bakti sosial itu.
“Astaghfirullah,,, aku tak boleh lagi memikirkannya. Dia telah menjadi milik orang lain” ujarku dalam hati.
Ibuku tersenyum menatapku saat Aida kini tengah berada di hadapanku tepatnya disamping ibu. “Fadil,,, kau telah wisuda nak. Kini adalah waktunya kau untuk menikah. Kerjaanmu sudah mapan, sarjanapun sudah ditangan.” Ujar ibu.
“insya Allah bu..” jawabku
“Aida,, dengan siapa kamu kesini?? Ibu dan suamimu mana?” kuarahkan wajahku mentap Aida meski terasa berat.
“ibu tak ikut mas,, aku datang sendiri. Dan kedatanganku untuk menyampaikan maafku padamu. Dan menjelaskan apa yang telah terjadi padaku selama ini.” lanjut Aida dengan wajah menunduk dan kini butiran bening mulai berjatuhan dari sudut mata indahnya.
Belum sempat bertanya lagi, Aku langsung diajak bicara dan ibupun turut mengikuti kami. Aida ingin menyampaikan sesuatu yang penting yang ku tunggu selama ini. “Di mushola saja mas” ajak Aida. Iapun menjelaskan apa yang selama ini telah menimpanya.
“Mungkin mas Fadil telah diberi tahu ibu tentang kejadian yang menimpaku. Tetapi semua itu berubah mas. Ternyata takdir Allah berubah lagi. Kini aku telah janda mas. Aku terus saja berdo’a kepada Allah agar diberi kekuatan untuk menjalani hidup. Setelah menikah selama lebih kurang seminggu. Aku tinggal bersama mertuaku dijogja,, tak sempat tidur  bersama dimalam pertama karena Ardi harus meyelesaikan tugasnya diluar kota dimalam pengantin kami.. Ardi dua minggu diluar kota. Entah mengapa tiba-tiba terpikir dibenakku untuk memeriksakan diri kedokter. Hal ini tak pernah terpikir sebelumnya Karena aku telah bingung dengan kejadian yang menimpaaku dihotel itu. dan hasil pemeriksaan ternyata kesucianku masih utuh. Si berengsek itu hanya menjebakku agar ia punya alasan untuk bisa menikahiku. Setelah mengetahui semuanya, akupun meminta cerai. Kujelaskan semua prilaku biadab Ardi kepada orang tua dan keluarganya. Mereka tak mampu menolak permintaanku. Sepulang dari luar kota akupun minta cerai padanya. Awalnya Ardy menolak, namun atas bantuan ayah dan ibunya, akhirnya ia kalah. Aku bahagia sekali mas,, karena Ternyata Allah sangat menyayangiku.
Mendengar penjelasan Aida. Hatiku berdesir. Kulirik ibu yang sedari tadi terdiam, iapun tak mampu menahan tangis.  Setetes embun terasa masuk kedalam batinku. Ternyata ujian Allah telah berakhir. Akupun berniat untuk  langsung melamar Aida hari itu juga.
selesai

Selasa, 20 Maret 2012

“Tuhan Dan Tukang Cukur”



      Suatu hari seorang laki2 sebut saja steve,, Datang kesebuah tempat cukur untuk memotong rambut dan jeggotnya. Iapun memuai pembicaraan hangat dengan tukang cukur yang melayaninya. Berbagai macam topikpun akhirnya menjadi pilihan mereka. Hingga akhirnya “TUHAN” menjadi subjek pembicaraan.
“Hai Tuan… saya ini tidak percaya  kalau Tuhan itu ada seperti yang anda katakan tadi..” Ujar si tukang cukur.
Mendengar ungkapan itu, steve terkejut dan bertanya,,
“Mengapa anda berkata demikian??”
“Iya,, jika Tuhan itu ada,, mengapa banyak orang yang sakit, dan mengapa banyak anak2 yang terlantar. Jika tuhan itu ada tentu tidak ada sakit dan penderitaan. Tuhan apa yang mengizinkan itu semua terjadi...@” Ungkap si tukang cukur tadi dengan nada tinggi.
Steve pun berpikir tentang apa yang baru saja dikatakan si tukang cukur.  Namun ia sama sekali tak memberi respon agar argument tersebut tidak lebih meluas lagi.
^^^ Saat steve keluar dari tempat cukur tersebut,, tiba2 ia berpapasan dengaN seorang laki2 berambut panjang dan jenggotnya sangat lebat. Sepertinya ia sudah lama tidak pergi ketukang cukur. Dan itu membuatnya terLiHat sangat tidak rapi. Akhirnya steve kembali masuk ke tempat cukur tadi dan kemudian berkata kepada sang tukang cukur.
“Ternyata di Dunia ini tidak ada yang namanya tukang cukur,,” Otomatis sang tukang cukurpun terkejut.
“Bagaimana mungkin mereka tidak ada tuan.. buktinya adalah saya. Saya ada disini dan saya adalah seorang tukang cukur..” Sanggah situkang cukur.
Dan steve kembali berkata tegas,,  “Kalau mereka ada, tidak mungkin ada orang yang berambut panjang dan berjenggot lebat seperti bapak yang satu itu..”
“Ahhh,,, anda bisa saja Tuan,,,!!! Tukang cukur itu selalu ada dimana-mana..  yang terjadi pada pria ini adalah bahwa ia tidak mau datang ketukang cukur untuk dicukur.” Jawab si tukang cukur.
“Tepattt Sekali,,,” Tegas steve.
“Sama halnya dengan pertanyaan anda tentang Tuhan tadi. Sebenarnya Tuhan itu ada,, yang terjadi pada umat manusia adalah mereka tidak mau datang dan mencarinya. Itulah sebabnya mengapa tampak begitu banyak penderitaan diseluruh dunia ini.” Jelas Steve.
************
“Kadang kita terlalu gampang mengambil kesimpulan dari SEsuatu hal yang tidak kita pikirkan secara mendalam. Tukang cukur itu adalah diri kita juga,  yang kadang ketika menderita lalu mengatakan tuhan tidak ada. Sementara kita barangkali tidak mengenal tuhan ataubahkan mungkin Selama ini kita tidak dekat dengannya.”
By: Resonansi Jiwa

Minggu, 11 Maret 2012

TA'ARUF…???



Sebuah kata yang asing?? Atau bahkan sudah familiar di telinga kita?
Kurasa,, ta’aruf bukan lah sebuah kata yang asing lagi bagi kita. kata ta’aruf dalam bahasa arab adalah perkenalan atau saling mengenal. Ta’aruf berarti melakukan aktifitas atau kegiatan bersilaturahim dengan dua orang atau lebih.
Ta’aruf boleh dilakukan oleh siapa saja,, dan dengan tujuan yang baik pula. baik itu untuk persaudaraan sesama muslim (ukhwah islamiyah), pertemanan, pernikahan, masuk suatu perkumpulan, masuk suatu majelis ilmu, dll.
Ta’aruf adalah sebuah pilihan terbaik mencari jodoh (pasangan hidup),, tentunya berbeda jauh dengan pencarian jodoh melalui aktifitas pacaran. Menyadari bahwa pernikahan bukanlah hubungan temporer, namun  diharapkan bisa langgeng. Pernikahan adalah suatu ikatan suci yang maha dahsyat dan diharapkan dapat terlaksana hanya sekali dalam seumur hidup.
Perlu diketahui, bahwa islam sangat ketat sekali membatasi antara hubungan pria dan wanita. Namun, islam memberikan peluang untuk saling mengenal (calaon isteri/suami) melalu proses ta’aruf. Hal ini dilakukan agar kita tidak salah pilih dan terhindar dari penyesalan yang mungkin hadir dikemudian hari. Selain perkenalan fisik, ta’aruf juga dilakukan untuk mengenal akhlak dan ilmu masing2. Tak hanya sebatas itu,, bagi yang melakukan proses ta’aruf maka sebaiknya utarakan semua kekurangan yang ada pada diri masing. Misalnya saja,, khusus untuk wanita, jika memang kurang bisa memasak,, maka katakan saja sejujurnya pada calon suami.
Ta’aruf memang dilakukan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai calon pasangan,, terutama dari keluarga terdekat  yang memang baik agamanya, agar tidak terjadi kebohongan. Dengan demikian sang pemberi informasi bisa adil dan jujur dalam memaparkan informasi. Dan yang paling terpenting adalah memfokuskan pertanyaan seputar masalah  agama dan akhlak calon pasangan.
Sesuai dengan sabda Rasululla SAW yang telah berpesan,,
“Sesungguhnya wanita itu dinikahi karena empat hal, Hartanya, Kecantikannya, Nasabnya (keturunan orang baik2) ,dan Agamanya. Pilihlah yang paling baik agamanya maka engkau akan beruntung”

Meski Obyek hadits tersebut adalah pria, pihak orang tua wanita sebaiknya juga mempelajari kepribadian dan agama calon mempelai pria,misalnya berinteraksi langsung dgn calon mempelai pria maupun lewat kerabat dekatnya. lagi lagi akhlak dan agamanya yang harus menjadi pertimbangan utama dalam menerima atau menolak calon menantu.
Proses ta’aruf juga tidak membutuhkan waktu yang lama beda halnya dengan mereka2 yang pacaran. Pacaran yang dilakukan bertahun2pun kadangkala belum bisa membuat pelaku mampu mengenal pasangannya,, karena jelas sekali bahwa pacaran biasanya identik dengan kesemuan belaka. Semua yang ditampakkan dalam berpacaran hanyalah yang baik2nya saja. Nah,,, hal ini berbeda jauh dengan proses ta’aruf yang sesuai syar’i ini. prosesnya tak berlangsung lama, dilakukan untuk silaturahmi, bertukar biodata, saling bertanya tentang kepribadian masing2, saling jujur satu sama lain baik dari segi kelebihan maupun kekurangan, dan hal ini bisa dilakukan dengan bertanya langsung kepada sang calon. Atau bertanya lewat orang2 yang terdekat dengan calon pasangan. Hal ini dilakukan agar tak akan ada penyesalan ketika pernikahan telah menjadi sebuah pilihan.
Jalannya proses ta’aruf biasanya tak lebih dari 3 bulan. SHALAT istikharoh jangan pernah terlupakAn. inilah penentu Awal.. jalan untuk memantabkan hati kita. Seperti sebuah bait puisi, “Bariskan harapan pada istikharah sepenuh hati ikhlas. Relakan Allah pilihkan untukmu. Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu pilihan-Nya. Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah. Mungkin kebaikan itu bukan pada orang yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang kaupilih. Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi. Kekasih tempat orang-orang beriman memberi semua cinta dan menerima cinta.”
semuanya memang hanya ada pada genggamanNYA. Tak ada yang mampu mengelak jika Dia telah berkehendak. Jika memang sang calon yang telah kita kenal melalui proses ta’aruf adalah jodoh yang telah tercatat dalam lauh mahfuzhNYA,, maka insyaAllah prosesnya ta’aruf kita akan dipermudah hingga ke arah pernikahan. Namun jika tidak,, maka semua itu memang atas kehendakNYA. Yakinlah bahwa Allah akan memberikan sesuatu untuk kita yang lebih baik lagi.
“Apa yang menurut kita baik,, belum tentu baik bagi Allah. Dan apa yang buruk menurut kita, belum tentu buruk pula bagi Allah.”
Semua atas kehendakNYA.



Sebuah kutipan dari Umi Zahrina Nurbaiti
Bagi pasangan yang sudah melakukan ta’aruf Islami, semoga langgeng pernikahannya, hingga kematianlah yang memisahkan kita dari pasangan kita. Aamiin
Bagi setiap aktivis da’wah, yang sudah memilih da’wah sebagai jalan hidupnya, tentunya harus memiliki kepribadian Islamiyyah yang berbeda dengan orang-orang yang belum tarbiyah tentunya. Salah satu akhlak (kepribadian Islami) yang harus dimiliki setiap ikhwan atau akhwat adalah ketika memilih menikah tanpa pacaran. Karena memang dalam Islam tidak ada konsep pacaran, dengan dalih apapun. Misalnya, ditemani orang tualah, ditemani kakak atau adiklah sehingga tidak berdua-duan. Semua sudah sangat jelas dalam Alqur’an surat Al Isra ayat 32 yang artinya ”Dan janganlah kamu mendekati zina ; (zina) itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”. Apalagi sudah menjadi fihtrah bagi setiap pria pasti memiliki rasa ketertarikan pada wanita begitu pula sebaliknya. Namun Islam memberikan panduan yang sangat jelas demi kebaikan ummatnya. Mampukah tiap diri kita menata semua, ya perasaan cinta, kasih sayang benar-benar sesuai dengan syari’ah? Dalam buku Manajemen Cinta karya Abdullah Nasih Ulwan, juga disebutkan, cinta juga harus dimanage dengan baik, terutama cinta pada Allah SWT, Rasulullah SAW, cinta terhadap orang-orang shalih dan beriman. Jadi tidak mengumbar cinta secara murahan atau bahkan melanggar syariat Allah SWT.
Lalu bagaimanakah kiat-kita ta’aruf Islami yang benar agar nantinya tercipta rumah tangga sakinah mawaddah warohmah, berikut pengalaman penulis 14 tahun lalu yaitu :
1.Melakukan Istikharoh dengan sekhusyu-khusyunya
Setelah ikhwan mendapatkan data dan foto, lakukanlah istikharoh dengan sebaik-baiknya, agar Allah SWT memberikan jawaban yang terbaik. Dalam melakukan istikharoh ini, jangan ada kecenderungan dulu pada calon yang diberikan kepada kita. Tapi ikhlaskanlah semua hasilnya pada Allah SWT. Luruskan niat kita, bahwa kita menikah memang ingin benar-benar membentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Seseorang biasanya mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang diniatkannya.
2.Menentukan Jadwal Pertemuan (ta’aruf Islami)
Setelah Ikhwan melakukan istikharoh dan adanya kemantapan hati, maka segerlah melaporkan pada Ustadz, lalu Ustadz pun memberikan data dan foto kepada Ustadzah (guru akhwat), dan memberikan data dan foto ikhwan tersebut kepada Akhwat. Biasanya akhwat yang memang sudah siap, Insya Allah setelah istikharoh juga segera melaporkan kepada Ustadzahnya. Lalu segeralah atur jadwal pertemuan ta’aruf tersebut. Bisa dilakukan di rumah Ustadzah akhwatnya. Memang idealnya kedua pembimbing juga hadir, sebagai tanda kasih sayang dan perhatian terhadap mutarabbi (murid-murid). Hendaknya jadwal pertemuan disesuaikan waktunya, agar semua bisa hadir, pilihlah hari Ahad, karena hari libur.
3.Gali pertanyaan sedalam-dalamnya
Setelah bertemu, hendaknya didampingi Ustadz dan Ustadzah, lalu saling bertanyalah sedalam-dalamnya, ya bisa mulai dari data pribadi, keluarga, hobi, penyakit yang diderita, visi dan misi tentang rumah tangga. Biasanya pada tahap ini, baik ikhwan maupun akhwat agak malu-malu dan grogi, maklum tidak mengenal sebelumnya. Tapi dengan berjalannya waktu, semua akan menjadi cair. Peran pembimbing juga sangat dibutuhkan untuk mencairkan suasana. Jadi tidak terlihat kaku dan terlalu serius. Dibutuhkan jiwa humoris, santai namun tetap serius.
Silakan baik ikhwan maupun akhwat saling bertanya sedalam-dalamnya, jangan sungkan-sungkan, pada tahap ini. Biasanya pertanyaan-pertanyaan pun akan mengalir.
4.Menentukan waktu ta’aruf dengan keluarga akhwat
Setelah melakukan ta’aruf dan menggali pertanyaan-pertanyaan sedalam-dalamnya, dan pihak ikhwan merasakan adanya kecocokan visi dan misi dengan sang akhwat, maka ikhwan pun segera memutuskan untuk melakukan ta’aruf ke rumah akhwat, untuk berkenalan dengan keluarga besarnya. Ini pun sudah diketahui oleh Ustadz maupun Ustadzah dari kedua belah pihak. Jadi memang semua harus selalu dikomunikasikan, agar nantinya hasilnya juga baik. Jangan berjalan sendiri. Sebaiknya ketika datang bersilaturahim ke rumah akhwat, Ustadz pun mendampingi ikhwan sebagai rasa sayang seorang guru terhadap muridnya. Tetapi jika memang Ustadz sangat sibuk dan ada da’wah yang tidak bisa ditinggalkan, bisa saja ikhwan didampingi oleh teman pengajian lainnya. Namun ingat,ikhwan jangan datang seorang diri, untuk menghindarkan fitnah dan untuk membedakan dengan orang lain yang terkenal di masyarakat dengan istilah ’ngapel’ (pacaran).
Hendaknya waktu ideal untuk silaturahim ke rumah akhwat pada sore hari, biasanya lebih santai. Tapi bisa saja diatur oleh kedua pihak, kapan waktu yang paling tepat untuk silaturahim tersebut.
5.Keluarga Ikhwan pun boleh mengundang silaturahim akhwat ke rumahnya
Dalam hal menikah tanpa pacaran, adalah wajar jika orang tua ikhwan ingin mengenal calon menantunya (akhwat). Maka sah-sah saja, jika orang tua ikhwan ingin berkenalan dengan akhwat (calon menantunya). Sebaiknya ketika datang ke rumah ikhwan, akhwat pun tidak sendirian, untuk menghindari terjadinya fitnah. Dalam hal ini bisa saja akhwat ditemani Ustadzahnya ataupun teman pengajiannya sebagai tanda perhatian dan kasih sayang pada mutarabbi.
6.Menentukan Waktu Khitbah
Setelah terjadinya silaturahim kedua belah pihak, dan sudah ada kecocokan visi dan misi dari ikhwan dan akhwat juga dengan keluarga besanya, maka jangalah berlama-lama. Segeralah tentukan kapan waktu untuk mengkhitbah akhwat. Jarak waktu antara ta’aruf dengan khitbah, sebaiknya tidak terlalu lama, karena takut menimbulkan fitnah.
7.Tentukan waktu dan tempat pernikahan
Pada prinsipnya semua hari dan bulan dalam Islam adalah baik. Jadi hindarkanlah mencari tanggal dan bulan baik, karena takut jatuh ke arah syirik. Lakukan pernikahan sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW, yaitu sederhana, mengundang anak yatim, memisahkan antara tamu pria dan wanita, pengantin wanita tidak bertabarruj (berdandan),makanan dan minuman juga tidak berlebihan.
Semoga dengan menjalankan kiat-kiat ta’aruf secara Islami di atas, Insya Allah akan terbentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah…yang menjadi dambaan setiap keluarga muslim baik di dunia maupun di akhirat.
..Aamiin ya Robbal ’alamiin. 


Sabtu, 10 Maret 2012

Semangat Menulis...@@@

"MENULIS BUTUHKAH BAKAT ATAU HOBI??"

“Sejarah  Hanya  Ditulis  Dengan  Nuansa  Dua  Warna, Hitam tinta  nya  Para  Ulama  Dan  Merah  Darah  nya  Para  Syuhada”
Menulis,,, perlukah bakat?? Atau memang harus Hoby??
Kata orang2 bijak: “Manulislah  Apa  Yang  Terlintas, Bukan Memikirkan  Apa  Yang  Hendak  Ditulis”
Adapula seorang penyair yang berkata: “ Aku ada karena aku menulis. Ketika nanti aku mati dan tak meninggalkan tulisan apapun, aku pasti menjadi benar2 tak ada. Namun bila aku mati dan meninggalkan tulisan atau suatu karya, atau apapun namanya, mungkin aku dikatakan mati secara fisik, tapi pikiranku, karyaku, bukuku, artikelku, atau apapun namanya, akan mengabdi dan Insya Allah akan menjadi amal yang akan terus mengalir”
waah,, betapa luar biasanya pernyataan seorang penyair dari madura itu. yuukk semangat,, ku yakin kita juga bisa.
Hmm,, memang sih kalau berbicara tentang tulis menulis, Sejujurnya Aku sama sekali tak hobi. juga tak merasa memiliki bakat menulis. Tapi,, kalau nyoret2 buku diary aku paling jago.
Pokoknya,, semua kekesalan, kesedihan, bahkan kepedihan sekalipun telah terangkum dalam sebuah buku diary. Aku lebih senang memaparkan isi hatiku kedalam coretan ketimbang menceritakan pada orang lain atau yang sering disebut Nyurhat alias Nyurahin isi hati ke orang lain. Banyak hal yang tak perlu mereka tau tentang ku,, biarlah ku luahkan semuanya dalam sebuah buku harian yang kuyakin akan lebih terjaga karena tak akan mungkin diketahui banyak orang selagi aku tak ceroboh menyimpannya. Berbeda jika semua masalah, ku curah kan kepada makhluk yang bernama manusia,, makhluk yang jelas2 penuh ke khilafan dan mungkin saja suatu saat semua rahasiaku malah dibeberkan kepada manusia2 yang lain dengan alasan khilaf. Dan satu lagi,, aku akan lebih merasa lega jika semua kepedihanku, ku ceritakan langsung kepada sang pemberi kepedihan. Aku semakin yakin dengan firmanNya yang mengatakan bahwa semua yang dibebankan kepada manusia memang sesuai dengan kemampuan manusia itu sendiri. Jika kita pahami secara lebih mendalam,,, kurasa tak ada masalah yang tak terselesaikan asalkan kita yakin kalau kita bisa melewatinya dengan berbagai cara. Gunakan akal, jangan terlalu menurutkan perasaan, hingga berujung kepada nafsu yang selalu ingin menjerumuskan. Salah satu yang perlu kita jaga adalah IMAN. Kata dosen ku, PAK A. MANAN, (hehe,, promosi),, IMAN lah yang menjadi pengendali semuanya,, pengendali Akal, Hati juga Nafsu.  Dengan begitu  insyaAllah semua masalah dan kepedihan akan mudah teratasi.
Aku memang tak hobi menulis,,, tapi aku sangat hobi membaca novel, cerpen, artikel2 islami, pokoke buku2 yang berbau islami daah. Tapi,, entah mengapa aku selalu merasa kekurangan waktu untuk membaca. Dibilang sibuk…. Gak juga@ kenapa ya?? Hmm,, ku rasa itulah yang menjadi kendalaku saat ini.  Aku pernah membaca sebuah buku karya Satria Nova yang juga seorang penulis. Dari pesan2 yang terdapat dalam karyanya lah aku semakin yakin dan tergerak untuk mencoba menulis. Apalagi saat membaca cita2nya. Sebuah cita2 yang menurutku sangat luar biasa...
“Impian terbesarku dari menulis adalah ketika nanti dipadang mahsyar, aku terbelalak melihat catatan amalku. Saat itu aku hanya bisa berkata,
‘Ya Allah… bukankah timbangan amalku tak sebesar ini??’ kemudian kuterima jawaban dari NYA.
‘Yaa,,, kau benar. Tapi ribuan orang telah tergerak hati, tangan, dan kakinya untuk berbuat kebaikan setelah membaca tulisan2 mu. Berantai amal sunah terkerjakan setelah ribuan manusia membaca karya dari jemarimu’
Ahh.. indahnya. Demi Allah Yang Maha Tahu,, itulah harapan tertinggiku”
Banyak hal yang kudapat dari tulisan2nya.. tentang awal mula ia menjadi seorang penulis.. menurut ceritanya, pertama kali ia menulis hanya karena iseng2 aja. Iapun selalu memposting semua pengalaman2nya dalam blog. Sampai akhirnya pada semester 3 ia terpilih menjadi pemimpin redaksi majalah dakwah kampus yang bernama Ultrassafinah. Dari sanalah dia belajar menulis. Alhasil pada bulan maret 2010, tepatnya ketika dia tengah berjuang menghadapi ujian MID di semester 5 dia memulai mengukir impiannya sebagai seorang penulis. Buku yang tengah berada ditanganku ini adalah karya kelimanya yang berhasil diterbitkan. Jika anda2 semua ingin membaca karya sebelumnya, diantaranya: siapa sahabat yang kau pilih?, 30 kisah pelaku sedekah, kuliah apa kuli yah?? Dan agar menulis senikmat bicara serta buku yang tengah berada digenggamannku saat ini yang bejudul ternyata menulis mudah dan menghasilkan uang.  Subhanallah.. luar biasa kan@
Nah,,, dia aja yang masih muda bisa,, kenapa kita enggak??? Dia juga manusia,, dan seorang mahasiswa yang juga banyak kegiatan,, jika dipikir2 lagi, gak mungkin ada waktu untuk nulis.. tapi fakta membuktikan dia bisa. Bahkan buku2nya sudah banyak yang diterbitkan…
Ucapan terimakasih untuk Mas SATRIA NOVA. Berkat karyanya, aku jadi semangat untuk menulis meskipun belum pernah melahirkan sebuah buku. Namun saat ini aku tak perlu berpikir panjang lagi untuk menulis apa saja yang ada dibenakku. Masalah hasilnya enak dibaca atau enggak,, urusan belakang dah. Yang penting aku harus tetap semangat untuk menulis.